Siswa Sekolah Rakyat Empat Lawang Diduga Jadi Korban Perundungan, Alami Patah Tangan

oleh -9737 Dilihat

BERITAEMPAT LAWANG — Seorang siswa Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Empat Lawang, Berinisial E, harus dipulangkan ke rumah setelah diduga menjadi korban perundungan oleh sejumlah teman sesama siswa di lingkungan sekolah.

E sebelumnya sempat dibawa ke RSUD Empat Lawang untuk mendapatkan penanganan medis setelah mengalami cedera pada tangan kanannya.

Kondisi tersebut membuat E harus menjalani perawatan dan sementara waktu meninggalkan aktivitas belajar di Sekolah Rakyat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian bermula terkait keributan, Setelah salat Isya, saat pembagian bantal, Erik diduga dicegat oleh sejumlah siswa.

Dalam kejadian tersebut, korban disebut mengalami tindakan kekerasan hingga mengalami cedera pada tangan.

Keluarga korban berharap kejadian ini mendapat perhatian serius dari pihak terkait. Mereka meminta adanya perlindungan terhadap anak serta memastikan proses pendidikan di Sekolah Rakyat berlangsung dalam lingkungan yang aman.

Peristiwa ini juga menjadi sorotan karena Sekolah Rakyat merupakan program pendidikan yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Selain memastikan proses belajar berjalan, aspek keamanan, pengawasan dan perlindungan siswa di lingkungan sekolah maupun asrama menjadi hal yang tidak kalah penting.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Empat Lawang, Ice Apra Listiana, membenarkan adanya kejadian tersebut.

“Iya, benar itu di Sekolah Rakyat Empat Lawang,” ungkap Ice saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.

Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Dinas Sosial Empat Lawang, Mardalena, mengatakan pihaknya langsung melakukan pengecekan setelah menerima informasi mengenai kondisi korban.
“Dapat informasi itu kami langsung bawa ke rumah sakit bersama wali asuh untuk diobati,” ujarnya.

Setelah mendapatkan penanganan medis, Erik kemudian dipulangkan ke rumah.
Kasus ini menjadi perhatian terhadap sistem pengawasan di Sekolah Rakyat, khususnya di lingkungan asrama.

Terlebih, informasi menyebutkan saat kejadian tidak terdapat penanggung jawab asrama di lokasi.

Pihak terkait diharapkan segera melakukan penelusuran menyeluruh untuk memastikan kronologi kejadian, memberikan pendampingan kepada korban, serta mengevaluasi sistem pengawasan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Sekolah Rakyat semestinya menjadi ruang pendidikan yang aman, nyaman dan terlindungi bagi seluruh siswa. Jangan sampai anak yang seharusnya datang untuk belajar justru harus pulang karena menjadi korban kekerasan.(diah)

No More Posts Available.

No more pages to load.