Dugaan Perundungan di Asrama Sekolah Rakyat, Seperti apa, Pengawasan dan Perlindungan Siswa ? Ini kata Kepsek SRT Empat Lawang

oleh -7737 Dilihat
Screenshot

BERITAEMPAT LAWANG — Keluarga seorang siswa Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Kabupaten Empat Lawang, yang diduga menjadi korban perundungan sesama siswa hingga mengalami cedera pada tangan, meminta keadilan dan berencana menempuh jalur hukum.

Siswa yang masih di bawah umur tersebut sebelumnya dipulangkan dari Sekolah Rakyat setelah mengalami cedera pada bagian tangan dan harus mendapatkan penanganan medis.

Keluarga korban, melalui Tomi Mandala Saputra, mengatakan pihak keluarga pertama kali mendapat informasi mengenai kondisi korban pada Kamis malam, 10 September 2026, sekitar pukul 21.35 WIB.

Menurut Tomi, pihak keluarga mendapat telepon dari pihak sekolah yang menyampaikan bahwa korban telah dirumah sakit, kerena berkelahi. kemudian pihak keluarga korban mendatangi RS untuk mengecek kondisi korban.

Setelah sampai dirumah sakit kami pihak keluarga mendapatkan keterangan dari rumah sakit bahwa tangan korban yang patah harus di operasi, kami sekeluarga memutuskan untuk pengobatan tradisional, sehingga membawa korban pulang ke rumah.

“Waktu itu kami mendapat telepon dari pihak sekolah, informasinya anak ini jatuh atau terpeleset. Setelah kami sampai di rumah sakit, kami melihat kondisinya dan kemudian membawanya pulang,” ujar Tomi.

Setelah korban berada bersama keluarga, pihak keluarga kemudian menanyakan lebih lanjut mengenai kejadian yang sebenarnya. Dari keterangan korban kepada keluarganya, Peristiwa tersebut diduga bermula setelah korban mendapat teguran karena berisik di masjid.

Tomi Mengatakan, berdasarkan cerita korban, setelah salat isya korban di tantang di ajak berkelahi, tetapi korban tidak mau merespon tantangan berkelahi tersebut, lalu korban melanjutkan tujuan nya kembali ke kamar untuk beristirahat, namun di jalan korban dicegat oleh sejumlah murid ketika hendak kembali ke asrama.

Dalam kejadian tersebut, korban mengaku mengalami tindakan kekerasan hingga menyebabkan cedera pada tangan kanannya.

Hasil pemeriksaan medis kemudian menunjukkan adanya cedera pada bagian tangan korban, bergeser di engsel(patah engsel),Atas kejadian tersebut, keluarga menyatakan tidak ingin persoalan berhenti begitu saja.

Keluarga meminta adanya kejelasan mengenai kejadian yang dialami korban serta memastikan hak dan perlindungan anak tetap diberikan.

“Kami sebagai keluarga tentu meminta keadilan. Anak ini datang ke Sekolah Rakyat untuk belajar, bukan untuk mendapatkan perlakuan seperti ini,” kata Tomi, saat di wwancara awak media.(13/9/2026).

Keluarga juga menyatakan akan menempuh jalur hukum dan melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang agar peristiwa dapat ditelusuri secara menyeluruh.
Pihak Sekolah Beri Klarifikasi
Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Empat Lawang, Suparno, M.Pd.Gr., membenarkan adanya peristiwa yang terjadi pada Kamis malam, 10 September 2026.

Dikonfirmasi mengenai kejadian tersebut, Suparno menyampaikan keprihatinannya. Menurutnya, setelah peristiwa terjadi, wali asrama segera melerai dan mengamankan anak-anak yang terlibat.

“Salah satu peserta didik yang mengalami luka juga segera dibawa untuk mendapatkan penanganan medis,” ujarnya.

Suparno mengatakan, saat ini pihak sekolah memprioritaskan kondisi dan perlindungan seluruh anak yang terlibat. Sekolah juga terus berkomunikasi dengan keluarga serta berkoordinasi dengan pihak yang berwenang.

Pihak sekolah, lanjutnya, menghormati proses yang sedang berlangsung dan siap memberikan informasi maupun keterangan yang diperlukan.

Sekolah juga mengaku akan melakukan evaluasi terhadap sistem pengawasan dan pengasuhan di lingkungan asrama untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi.

Terkait persoalan tersebut, pihak sekolah meminta keluarga korban datang ke sekolah untuk membahas persoalan melalui mediasi.

“Kami akan menyampaikan perkembangan lebih lanjut apabila sudah ada informasi yang terverifikasi dan dapat disampaikan kepada publik,” katanya.

Pihak sekolah juga mengingatkan agar identitas dan kondisi psikologis anak-anak yang terlibat tetap dijaga karena seluruhnya masih di bawah umur.

Screenshot

Sebelumnya, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Empat Lawang juga membenarkan adanya kejadian tersebut. Sementara Dinas Sosial menyebut telah mengecek kondisi korban dan membawa yang bersangkutan mendapatkan penanganan medis.

Kini, keluarga korban meminta persoalan tersebut ditangani secara serius. Selain memastikan kondisi korban, keluarga berharap proses penanganan dapat mengungkap secara jelas apa yang sebenarnya terjadi di lingkungan asrama Sekolah Rakyat, sekaligus menjadi evaluasi terhadap sistem pengawasan dan perlindungan anak di sekolah tersebut.

No More Posts Available.

No more pages to load.